Lamborghini Huracán LP 610-4 t

DI UJUNG MALAM
Malam Senin yang basah.Hujan turun sejak pukul enam sore tadi. Derasnya tidak berkurang dan menimbulkan suara berisik di atap rumah. Angin
malam yang masuk melalui kisi-kisi jendela menusuk tulang punggungku. Beberapa kali ketukan ujung ranting pohon di kaca jendela memberikan
irama sela di tengah derasnya hujan.Lima belas menit jelang tengah malam. Sepertinya aku akan menjadi makhluk malam lagi, seperti dua tiga
malam sebelumnya.Monitor komputer berkedap-kedip dengan cepat. Proposal Praktikum Pembuatan Kompos ini baru selesai separuh, belum masuk
ke Tinjauan Pustaka padahal buku-buku referensi sudah siap dibuka. Tinggal mencari halaman sekian agar isinya bisa aku salin. Namun kesepuluh
jari tanganku hanya mengambang di atas keyboard komputer.Aku duduk diam.Satu menit, dua menit… dua setengah menit berlalu tanpa sedikit
pun memindahkan kursor komputer. Pendar-pendar sinar monitor yang memenuhi ruang mataku seakan-akan mengurungku supaya tetap tidak
bergerak.Aku buntu. Miskin ide.Tiba-tiba aku ingat dia. Hei, kenapa mesti dia? Bukankah aku sekarang sudah punya pacar, bahkan sudah siap
menjadi calon suami? Seharusnya yang sekarang-lah yang aku ingat, bukan yang tertinggal.Sedang apa kamu di sana? Di sana, entah di mana.
Tentu saja aku tidak tahu karena kamu menghilang sejak enam tahun lalu. Tanpa alamat, tanpa berita. Surat-surat yang sengaja aku tulis tak pernah
dikirim untukmu. Menumpuk begitu saja di dalam kotak harta (begitu kita pernah menyebutnya) bersama foto-foto kita yang sudah mulai
menguning.Semua karena aku masih ingin mengenangmu. Jangan salahkan aku. Tolong, jangan larang aku. Yang sesungguhnya aku rasakan tidak
pernah kamu tahu. Apalagi mengharapkan kamu untuk lebih mengerti. Karena kamu begitu jauh. Ataukah karena sebenarnya kamu terlalu dekat di
hatiku?Whoooahmm…Aku menguap sekali. Angin menerobos ventilasi, membelai leherku. Dingin. Agaknya hujan mulai reda. Tidak terdengar
suara berisik lagi. Mouse kugeser ke kiri, ke kanan, lalu melingkar-lingkar. Sekali lagi aku menguap.Aku kembali mengetik. Entahlah, apa benar yang
sudah aku ketik. Peduli amat.Pluk.Seekor cicak jatuh di atas printer. Aku kaget. Ternyata mataku nyaris tertutup.  Sampai mana ketikanku
tadi?Ugh, kenapa malam memaksa aku berpikir bukannya menuntunku untuk tidur?Lagu. Bodoh, kenapa tidak memutar lagu saja? Barangkali
mampu meredam kantukku. Banyak kaset di laci lemariku. Pop Indonesia, Barat, India -nyaris ada semua- kecuali dangdut dan keroncong.
Kaset-kaset itu aku koleksi sejak SMP. Bahkan ada beberapa yang sudah jamuran namun tetap aku simpan.Bryan Adam. Terlalu lembut. Firehouse.
Yah, lumayan menghentak. Megadeth? Eh, kaset siapa yang nyasar di sini? Bukan milikku, barangkali salah seorang teman kampusku
meninggalkannya di sini. Atau Ebiet G. Ade? Enggak ah, nanti tambah ngantuk. Oh, gimana kalau Bon Jovi? Tidak apa bukan? Mendengarkan slow
rock tidak akan menganggu penghuni kamar sebelah yang mungkin sudah hanyut dalam sungai mimpi.This romeo is bleeding, but you can’t
see his blood… It’s nothing but some feelings, that this old dog kicked up… It’s been raining since you left me, now I’m
drawning in the flood… You see I’ve always been a fighter, but without you I give up…Aduh, kenapa Always yang pertama keluar?
Hanya akan mengingatkan aku tentangnya. Bukankah ini lagu yang kamu nyanyikan saat malam perpisahan SMU? Yang khusus kamu
persembahkan untukku, membuat aku tersanjung.Kamu masih suka memetik gitar tua itu, yang kau sebut pacar kedua -setelah aku- itu? Tentu saja,
musik adalah duniamu, setelah panjat tebing dan hiking. Menurutku hobimu yang lain (pasti kamu enggak sadar) adalah menaklukkan hati para gadis.
Dengan senyum tanpa dosa tidak akan ada yang menolak ajakanmu. Termasuk aku.Salahkah bila aku sering membayangkan wajahmu. Dosakah?
Cuma membayangkan saja, bukan suatu pengkhianatan, kan? Sungguh, sebesar apa pun keinginanku untuk menghapus ingatan tentangmu, sebesar
itu pula ketidakmampuanku untuk melakukannya. Sungguh, aku masih sangat mencintai kamu. Memang benar kata orang, cinta pertama itu tidak
akan pernah mati. Yang paling berkesan. Paling manis. Sekaligus juga pahit. Seperti itulah yang pertama, bukan?Mungkin jalan satu-satunya adalah
aku ikut program pencucian otak.Saat tidak ada kerjaan, lebih senang mengingatmu. Saat bertengkar dengan pacarku, lebih nyaman bersama
bayanganmu. Menggambar jengkal demi jengkal bagian tubuhmu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menuangkannya ke dalam kanvas hatiku.
Rambutmu yang panjang menggelitik, sepasang mata elang di bawah naungan alis hitam, serta bibir tipis yang selalu basah dan mengurai senyum
meneduhkan. Aku hapal wajahmu. Setiap gurat di sana bisa aku ingat, berharap wajah yang aku lukis selalu tersenyum dan menyapaku di ujung
malam. Tapi, apakah waktu enam tahun merubah semuanya?Aku kangen kamu.Kangen sapaan ‘selamat pagi’ yang selalu kamu
berikan di depan pintu kelas. Kangen genggam tanganmu yang menuntunku turun dari sepeda saat mengantarku pulang. Kangen bisikan lembutmu
saat membujuk hatiku. Juga lelucon konyolmu yang tidak pernah habis.Aku kangen semua tentang kamu. Benar-benar.Bed of Roses terdengar. Sejak
kapan lagu demi lagu berganti? Rupanya aku keasyikan melamun. Keasyikan melukis kamu. Ah, peduli amat.Tengah malam.Aku benar-benar
menjadi makhluk malam.Sudah empat kali dalam seminggu ini. Banyak tugas baca, makalah, dan presentasi yang menguras isi kepala dan